Disclaimer: Masashi
Kishimoto
Pairing: Itachi Uchiha x Kyuubi/Kurama
© Kireikitsune
Cinta
Apa yang akan kamu pikirkan saat mendengar
kata ‘dongeng’? Cerita untuk anak-anak, benar. Cerita yang di dalamnya terdapat
pangeran, putri, istana, naga atau monster jahat lainnya, itu juga benar. Cinta, benar sekali.
Kota Edelweiss adalah kota keabadian,
dimana kehidupan liar di dalamnya tak akan pernah mati. Jauh seperti namanya,
kota ini tidak secantik bunga Edelweiss, atau dulu pernah. Di sini, orang-orang
selalu dituntut untuk berpikir secara realistis. Di sini, orang-orang tak
mengenal apa itu cinta.
Cinta hanya sebuah dongeng di kota
Edelweiss. Kau hanya akan ditertawakan jika menyebut satu kata imajinasi
tersebut. Mereka berpikir, cinta tak diperlukan jika ingin keluarga mereka bisa
hidup. Mereka berpikir, mereka akan bahagia saat menenggak minum-minuman
beralkohol bersama ‘teman-teman’ mereka. Mereka berpikir, mereka tak butuh
cinta.
Tapi, di kota Edelweiss masih banyak yang
diam-diam memegang harapan akan cinta. Perempuan yang menangis karena
kekasihnya bercumbu di depan matanya, suami yang frustasi mengetahui istrinya
menduakannya, atau anak-anak yang dengan sabar menunggu orang tua mereka pulang
bekerja sambil mengelus rambutnya atau membacakan dongeng seperti yang mereka
dulu pernah lakukan. Anak-anak. Mereka adalah kunci harapan terbesar cinta di
kota abadi ini.
Sebuah dongeng akan dimulai dengan kalimat
“Suatu ketika…” atau “Dahulu kala…”, namun aku tak mau repot-repot
membacakannya untuk kalian. Aku akan bercerita tentang seorang anak yang dengan
senantiasa sabar menunggu kapan datangnya cinta di kehidupannya, menariknya
keluar dari kesendiriannya selama ini. Mengerti akan kebutuhannya, membelainya
dengan kasih sayang. Seperti putri yang disekap di atas menara, ia selalu
menjulurkan kepalanya ke bawah agar bisa melihat kapan pangeran berkuda
putihnya datang. Sayangnya, ia bukanlah seorang putri yang disekap di atas
menara. Ia adalah seorang pemuda bermulut kasar antisosial yang benci makhluk
bernama manusia. Ia bukan seorang putri, ia seorang lelaki.
Kurama Uzumaki, tokoh utama kita ini bekerja sebagai
pekerja paruh waktu penjaga perpustakaan kota Edelweiss yang besar dan lengkap.
Ia berusia 16
tahun, dan banyak kisah di masa lalunya yang akan panjang untuk diceritakan,
jadi bagian itu ku lewatkan.
Jika Kurama adalah tokoh yang berperan sebagai putri,
dimanakah sang pangeran? Ini dia, lelaki tampan di belakang Kurama yang sibuk
mengelus-elus bokong Kurama sedari tadi sambil tersenyum mesum. Membuat Kurama yang melakukan
pekerjaannya kesal setengah mati.
“Tn. Uchiha yang terhormat,” Kurama hampir merasakan
urat di pelipisnya putus. “Bisakah Anda menjauhkan tangan bersih dan mulus
milik Anda menjauhi bokong saya? SAYA MOHON.” Kurama tak perlu repot-repot menyembunyikan rasa
kesalnya pada orang ini.
Itachi Uchiha—tersangka yang dimaksud makin
memperlebar senyumnya sampai matanya hilang karena menyipit. “Maaf, Uzumaki
sayangku, bokongmu terlalu indah sehingga tanganku tak kuasa menari di atasnya.
Oh, dan ku harap bukan hanya tanganku saja yang menari di bokongmu, semoga kita
juga bisa menari tarian penuh gairah di ranjang,” Ia tersenyum manis.
Kurama merasakan amarahnya memuncak. Sudah seminggu
yang lalu orang gila kelebihan libido ini terus-terusan mengganggunya,
melakukan pelecehan seksual padanya—pertama kali dibegitukan Kurama langsung berteriak
tapi orang-orang malah mengira mereka pasangan gay yang sedang bertengkar—,
sampai menguntitnya! Itachi pernah dengan sengaja menaruh amplop coklat tebal
di depan pintu apartemennya—nama Itachi tertulis di sana besar-besar—dan isinya
adalah semua foto-foto Kurama dalam keadaan hampir telanjang. Kurama sudah menonjok Itachi dan terang-terangan
mengusirnya, tapi dengan senyum bodohnya itu Itachi tetap setia mengekor di
belakang Kurama sampai kapanpun.
Pada akhirnya Kurama hanya menghela nafas
berat dan mencoba mengacuhkan lagi si anak jutawan kaya raya itu. Sekarang
tangan Itachi mulai naik merengkuh pinggang ramping Kurama. Kurama mendesis tak suka.
Apanya sih, yang ia suka dari Kurama? Wajah Kurama biasa-biasa saja seperti anak lelaki pada umumnya, malahan terlihat
garang karena ia jarang—hampir tak pernah, sebetulnya—tersenyum. Banyak yang
bilang ia lumayan, tapi Kurama rasa wajahnya tak semanis atau secantik yang Itachi sering gombalkan.
Ia juga tidak kaya ataupun miskin.
“Uchiha, jika kau butuh pelampiasan nafsumu
maka kurasa banyak profesi di luar sana yang bisa membantumu. Pelacur atau
gigolo, mungkin?” Kurama memukul tangan Itachi dengan keras, kemudian menaruh buku-buku yang
sudah selesai dipinjam pada raknya.
Tangannya ditarik dengan kasar oleh Itachi,
membuat mereka berhadapan sekaligus menjatuhkan buku-buku yang dipegang Kurama. “Apa-apaan kau?!” Kurama berseru kesal.
Sekarang apalagi?!
Mata Itachi menatapnya berbahaya. “Aku
hanya mencintaimu, Kurama Uzumaki.” tegasnya. Siapapun yang melihatnya pasti tahu ia serius.
Tapi Kurama
mengacuhkannya.
Memalingkan wajah, ia berkata, “Aku tak
peduli dan aku membencimu. Lagipula cinta tak akan bisa membuatku hidup. Dan
aku tak butuh uangmu.” Nada suaranya datar.
“Begitu?” Itachi tersenyum. Ia kembali
merengkuh Kurama dalam pelukannya. “Tapi, aku tahu kau percaya dengan cinta, Kurama…” lirihnya. Kurama diam tak bergeming,
merespon atau menatap lawan bicaranya.
Itachi memalingkan wajah Kurama agar menatapnya. Tak
ada balasan dari Kurama hanya membuatnya tersenyum. Tanpa menutup mata, ia mendekatkan
wajah mereka, memagut bibir Kurama. Kurama hanya diam, tak berniat membuka mulutnya sama sekali. Itachi
menjauhkan wajahnya, ia tersenyum. “Aku mencintaimu,” bisiknya tepat di samping
telinga Kurama, lalu pergi.
Merasakan Itachi sudah tidak ada, Kurama menunduk. Mengambil
buku-buku yang jatuh dan mengembalikannya ke dalam rak. Ia bergumam, “Ada lagi
orang yang punya idealisme bodoh sepertiku,”
...
Dua hari setelah kejadian itu, batang
hidung Itachi tidak nampak. Kurama bernafas lega, akhirnya ia terbebas juga dari si bodoh mesum itu.
Mungkin ia menyerah karena perlakuan dingin Kurama? Kurama tak tahu dan tak mau tahu. Pandangan Kurama mengawang. Padahal
ia sudah sedikit berharap, ada orang yang mau menemaninya…
Hari ini tak banyak pengunjung di
perpustakaan, jadi Kurama hanya memeriksa catatan daftar buku yang dipinjam. Saat ia membuka
halaman pertama, ia mengernyit. Ada sebuah kertas yang ditempel di situ dengan
tulisan tangan yang konyol.
‘Kurama, aku mencintaimu’ dengan ikon ciuman di
sebelahnya.
Pasti
ulah Uchiha, batinnya bosan. Saat ia membuka
halaman selanjutnya dan selanjutnya, ia menemukan kertas-kertas yang berisi
tidak jauh beda.
‘Hai, Kurama. Aku mencintaimu’
‘Kurama cintaku’
‘Kurama, kau manis sekali hari ini’
‘Terima saja cintaku, Kurama’
‘Kurama, ayo kencan!’
‘Kurama, di Shinjuku ada love hotel yang baru
dibuka…’
Dan seterusnya. Membuat telinga Kurama panas saja. Di
bibirnya tersungging senyum tipis.
Entah karena apa, Kurama tiba-tiba memandang
ke luar jendela. Ia cukup terkejut saat melihat orang yang menulis
kertas-kertas tersebut di sana. Menatap lurus padanya di samping Lamborghini
hitamnya. Mereka bertatapan beberapa detik. Tanpa senyuman, tanpa kata-kata,
Itachi masuk ke mobilnya dan berlalu.
Kurama terheran-heran. Ia melihat lagi buku
daftarnya. Membalik halamannya, ia menemukan satu kertas terakhir yang ditempel
di sana. Tanggalnya dua hari yang lalu.
‘Kurama, aku benar-benar mencintaimu.’
Alis Kurama terangkat naik. Seperti di dongeng-dongeng
saja, ada yang janggal di sini.
...
Perusahaan Uchiha bangkrut. Itu yang
ditangkap Kurama dari berita yang ditontonnya sore hari ini. Mereka mengalami
kerugian besar karena salah satu karyawannya melakukan penggelapan dana dalam
jumlah besar dan kabur entah kemana. Beberapa cabang ditutup, namun perusahaan
pusat pun sepertinya takkan bertahan lama.
Miris, itu yang dirasakan Kurama waktu mendengarnya.
Pantas saja si Uchiha itu berlaku aneh, ternyata ini alasannya.
Lalu bagaimana dengan Itachi? Dimana ia sekarang? Bagaimana dengan rumahnya?
Apakah ia cukup tidur? Apakah ia sudah makan, ataukah—
‘Oh, bagus. Sekarang aku mulai peduli padanya.’ batinnya, kesal. Ia diam, berpikir. Setelah
mendapat jawaban atas pikirannya, akhirnya ia keluar. Daripada berdiam diri tak
melakukan apa-apa, lebih baik ia mencari sendiri sumber kegalauan hatinya.
Ia pun dengan cepat
mengambil tasnya dan mengunci pintu perpustakaan dengan waktu tutup lebih awal.
Tangannya sibuk mengutak-atik ponselnya, yang ia yakin nomor Itachi ada di sana
meskipun ia tidak menyimpannya. Setelah menekan tombol hijau, ia menunggu.
Namun tak ada jawaban. Kurama berdecak. Jangan bilang ponsel Itachi ikut disita
bank. Tapi Kurama rasa bukan itu. Ia rasa Itachi dengan sengaja menghidarinya,
maka ia memutuskan mengirim pesan pada si sulung Uchiha. Sambil bermain dengan
ponselnya, sambil kakinya ikut melangkah menuju pemberhentian bis terdekat.
“Kau dimana?” Terkirim. Ia pun sudah sampai di pemberhentian bis. Dan ia mendengar bunyi
ponsel orang lain di sebelahnya.
“Di sampingmu, sayang.” Ia menoleh, menemukan orang yang dicarinya tepat
di sebelahnya. Kurama terdiam. Itachi hanya tersenyum melihatnya.
Kurama melangkah
mendekat. “Hai, Kurama sayang, apa kabar—“ dan bunyi bertemunya tangan dan pipi
tak terelakkan.
“...Hei, aku sedang
miskin dan butuh obat cinta sekarang, kenapa kau malah membuatku sakit?” Itachi
meringis memegang pipinya. Kurama tetap seorang lelaki, tenaga yang dipakainya
tidak main-main.
“Salahmu karena menjadi
pengecut.” Kurama menatap lurus matanya tajam.
Mata Itachi meneduh.
“Maaf,” ujarnya penuh perasaan. Ia memegang sebelah tangan Kurama dan
menciumnya. Menatap langsung ke mata Kurama, menunjukkan bahwa ia betul-betul
menyesal. Untungnya tempat itu sedang sepi.
“Aku sekarang sudah tak
punya apa-apa lagi, orang tuaku terlalu sibuk mengurusi harta mereka yang
hilang dibandingkan dengan anak mereka, apakah sekarang kau mau menerima
cintaku, Kurama?”
Kurama diam. Perlahan ia
menarik tangannya dari genggaman Itachi. Lalu ia berjalan melewati Itachi
begitu saja. Itachi hanya berdiri terpaku di tempatnya.
“Kalau kau ingin tidur di
situ, silahkan saja.” Itachi menoleh. Kemudian ia tersenyum. Bergegas ia
menarik kopernya dan menyusul Kurama. Ia memperhatikan wajah Kurama dari
samping.
“Apa ini artinya kita
akan tidur bersama?”
“Silahkan saja berbuat
macam-macam dan kau akan kutendang keluar rumah, Tn. Uchiha.”
.
.
Cinta adalah sesuatu yang
pahit pada awalnya dan manis pada akhirnya. Cinta yang membuatmu lahir ke
dunia. Tanpa cinta, dunia akan berakhir pada kesengsaraan.
Cinta juga yang
menyatukan Itachi dan Kurama. Aku tak akan bilang mereka hidup bahagia
selamanya. Aku hanya bisa berharap mereka bisa hidup bahagia selamanya.
...
Berakhir? Menurutmu
begitu? Bukankah setiap kisah tidak akan selalu berakhir?
.
.
.
“Masuk.” ucap Kurama.
Itachi mengikuti di belakangnya dan menutup pintu. “Maaf saja jika apartemenku
lebih kecil daripada mansionmu—“
“Kamarmu?” Itachi
memperhatikan sekeliling.
“Hah?”
“Dimana kamarmu?” Itachi
mulai berjalan menggeledah isi apartemen Kurama. Dan itu membuat Kurama tidak
suka. “Hei, jangan masuk seenaknya—“
“Oh, di sini rupanya.
Kemari, Kurama.” Kurama langsung ditarik Itachi ke dalam kamarnya sendiri.
Tubuhnya dibanting ke atas kasur. Itachi menaiki tubuhnya.
“Sudah ku bilang jika kau
berani berbuat macam-macam maka kau akan ku tendang keluar, Tn. Uchiha.”
ujarnya datar.
Itachi menyeringai.
“Siapa bilang aku peduli, wahai rubah manisku?” Ia merendahkan tubuhnya.
Kurama mendengus namun di
bibirnya tersungging sebuah senyuman. “Coba saja.”
Dengan itu bibir keduanya
bertemu. Siapa yang bilang aku akan mengakhiri cerita ini tanpa sebuah ciuman
manis?
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar