Disclaimer: PT.
Merantau Film dan tetek bengeknya
Pairing: Uco x Rama/Yuda
© Kireikitsune tanpa maksud merusak hak cipta dan mengambil keuntungan dari pembuatan fanfiction ini
© Kireikitsune tanpa maksud merusak hak cipta dan mengambil keuntungan dari pembuatan fanfiction ini
Warning: Uh, rape?
Oneshot pendek, terserah mau disebut drabble juga bisa. Saya anggap sebagai
plot yang hilang. Gambar cover bukan punya saya. BL.
A/N: YA AMPUN SAYA BARU INGAT SAYA PUNYA BLOG INI HAHAHAH. Cerita ini saya buat di tahun 2014 lol.
A/N: YA AMPUN SAYA BARU INGAT SAYA PUNYA BLOG INI HAHAHAH. Cerita ini saya buat di tahun 2014 lol.
Bayangan dan Akal Sehat
Apa jadinya kalau waktu malam Uco ngajak Yuda ke karaoke
tidak ada interupsi panggilan telepon. Uco yang dibutakan amarah akan kekuasaan
bapaknya yang tidak kunjung ia dapat biasanya akan melampiaskan nafsu dan
ambisinya kepada pelacur. Tapi malam itu hanya Yuda yang lagi menemaninya. Lalu apa yang akan terjadi?
“Mereka keluar.”
Uco memandang Yuda. Yuda balik memandang Uco.
“Uco.” panggil Yuda. Walaupun ia berkata dengan nada normal
seperti ia biasa berbicara, Uco merasa ada peringatan di dalamnya. Peringatan
supaya ia ingat dimana dia sekarang. Siapa dia. Siapa bapaknya. Sampai mana kekuasaannya. Dan Uco bukan
orang yang bisa diperingati atau disuruh.
Uco melepas genggamannya dari rambut pelacur itu dengan
kasar.
“KELUAR!” teriaknya. Ia membiarkan mereka berdua pergi.
Bahkan anjing-anjing betina itu tidak minta maaf padanya, kurang ajar! Ia
membanting remote ke samping.
Setelah pelacur-pelacur itu pergi, si petugas keamanan
berkata, “Malam ini gratis aja pak. Terima kasih,” Orang itu berkata dengan
pelan dan hati-hati, takut jika Uco mengamuk lagi.
Ia pun menutup pintu. Meninggalkan Uco dan Yuda berdua.
Ia marah besar. Pecun sialan itu berani menghinanya.
Mengejeknya sebagai preman pasar.
Brengsek, bajingan! Dia lebih dari itu, sialan. Ia tidak akan membiarkan seorang
pun menghinanya hanya karena ia hanya bisa bicara bapaknya adalah bos yang
paling dihormati di dunia gelap!
Ia tidak habis pikir, ia anak tunggal bapaknya. Ia yang
harusnya mewarisi seluruh kekuasaan bapaknya. Ia bahkan sudah berkepala dua!
Kenapa bapaknya yang sialan itu selalu bilang ‘belum’ saat ia meminta
kekuasaannya?! Kenapa, sialan!
Yuda meliriknya berkali-kali. Merangkai kalimat supaya Uco
tidak akan marah. Akhirnya ia menoleh ke Uco,
“Lo ngga papa?”
Uco mendengus. “Ngga papa lah pecun doang emang gue pikirin.
Cuman gila aja dia berani ngebacot sama gue, siapa dia gitu?”
Yuda hanya menunduk. Bingung harus berkata apa.
“Gue lebih dari apa yang dia bilang. Lebih dari semua ini.
Udah saatnya gua naik jabatan yang gua punya, bokap sadar!”
“Pasti ngga lama lagi.” sahut Yuda.
“Oh ya, kapan?!” Uco menaikkan nada suaranya.
Mereka berpandangan. Uco melihat Yuda dengan bara api di
dalam matanya. Menusuknya sampai ke relung jiwanya. Membuat Yuda memalingkan
wajah duluan, menjadi salah tingkah.
Ini yang tidak biasa dihadapi oleh Yuda. Emosi Uco yang
labil. Dia sadar, kawannya di penjara dulu—memang
bisa mereka disebut kawan?—akan sering meledak-ledak tanpa alasan yang
jelas. Kadang ia berbaik hati dan memberi semua yang Yuda mau, perlindungan,
makanan, rumah. Tapi kadang ia bisa seperti ini, bagaikan bom waktu berjalan.
Tidak tahu kapan, tiba-tiba meledak. Selama dua tahun ia hanya bisa berusaha
dirinya tetap terus di samping Uco, mengawasinya. Tapi anehnya, Uco
membiarkannya di situ. Di dekatnya. Tidak menjauh juga tidak mendekat. Membuat
Yuda bingung apa yang dipikirkan anak tunggal bos mafia itu.
Selama Yuda menunduk, Uco terus memandangnya. Selama itu,
Uco merasa ada yang membisikinya. Mencoba menyuruh ia melakukan sesuatu.
Sesuatu yang gila dan biadab, namun wajar bagi yang berbisik.
Dibutakan oleh amarah, setan-setan mulai membisikinya.
Membisikinya apa yang akan ia sesali nanti.
Yuda kaget, kaosnya ditarik begitu saja. Saat sadar bibirnya
dan bibir Uco sudah menempel.
Apa-apaan—
“Mmh!” Belum sempat berpikir apa-apa, Uco melumat bibir Yuda
dengan kasar. Ia mendorong Yuda ke sofa, menempatkan dirinya di antara kaki Yuda.
Uco menggigit bibir bawahnya sampai berdarah.
Yuda memberontak. Ia memukul-mukul bahu Uco, tapi ia sadar
ia tidak bisa melukai targetnya itu. Seakan perlawanannya sia-sia. Uco
menangkap kedua tangannya, menggenggamnya erat di atas kepala Yuda. Tangan
kirinya ia gunakan untuk menahan kedua tangan itu, sementara tangan kanannya ia
pakai supaya menahan wajah Yuda agar diam di tempat. Uco cengkram kedua pipinya
sambil ia lumat bibir Yuda.
“Buka mulut lo!”
Yuda berusaha menggeleng, “Co—“
“Buka mulut lo atau gua tinju elo, pilih mana?!”
Yuda tetap menggeleng sambil memejamkan matanya rapat. Ya Tuhan—
BUK! Yuda meringis menahan sakit di perutnya. Uco
benar-benar meninjunya. Kedua pipi dan tangannya juga terasa sakit dicengkram
Uco.
“Elo udah ngusir kesenangan gue, berarti lo udah siap jadi
gantinya kan? Gue akan perkosa lo sampai gue puas.” ujar Uco dengan nada final.
Yuda semakin memejamkan matanya rapat. Ya Tuhan... Dia kerja
seperti ini untuk melindungi anak dan istrinya. Dia rela badannya dipukuli
untuk melindungi keluarganya. Ditinju, disayat, dihantam, ditembak, sudah
menjadi makanan baginya. Siapa yang tahu dia malah tidak bisa melindungi
dirinya sendiri. Melindungi harga dirinya.
Kemudian ia melihat itu lagi. Bayangan Isa. Bayangan
Angga—meskipun ia tidak bisa melihat perkembangan anaknya dua tahun terakhir
ini. Bayangan bapaknya. Bayangan Jaka dan teman-temannya yang sudah tewas.
Bayangan Andi.
Maka ia berpikir, ngga
papa.
Ngga papa.
Ia membuka mata perlahan. Menatap wajah Uco yang berada di
atasnya. Yang menatap wajahnya tajam, penuh dendam dan amarah. Ia menatap wajah
itu—yang selama dua tahun terakhir ini selalu dilihatnya.
Entah kenapa, bayangan itu bertambah di benaknya.
Wajah Uco waktu ia mengambil makanannya dengan iseng sambil
tersenyum jahil.
Wajah Uco waktu mengomentari salah satu tahanan dengan acuh.
Wajah Uco yang tertawa waktu mereka berdua berhasil
mengelabui sipir supaya bisa ke bagian terlarang penjara. Hanya untuk
menunjukkan kepada Yuda ia menemukan tempat yang bagus buat merokok.
Yang pada akhirnya ia menyukai tempat itu. Tempat ia bisa
menghirup udara bebas di antara kotornya bau penjara dan binatang-binatang di
dalamnya. Tempat ia bisa mencium samar-samar bau asap rokok yang dihisap Uco.
Tempat ia bisa menikmati waktu kesendiriannya bersama dengan Uco sambil
mengobrol ringan.
Bayangan Uco selama dua tahun terakhir.
Bayangan itu berseliweran di otaknya, membuat pandangannya
tidak fokus.
Ya Tuhan, maafkan
dosaku.
Ia seperti tertarik ke masa sekarang saat Uco dengan kasar
mencium bibirnya lagi. Menghisap bibir bawahnya dengan kuat, membuat Uco
merasakan asinnya darah pemuda yang lebih pendek darinya itu. Uco ketagihan.
Bagaikan mabuk—atau sebenarnya tadi ia
sudah minum banyak alkohol?—ia berulang kali melumat bibir atas dan bawah
Yuda. Mencoba menerobos masuk ke mulut Yuda dengan lidahnya. Padahal ia sudah
merasakan bibir Yuda bengkak karenanya.
Di tengah lumatan itu Yuda berbisik lirih, “...co,”
Uco seperti tidak mendengarkan. “Uco,”
Ia menarik kepalanya menjauh setelah satu kecupan terakhir.
Menatap wajah Yuda.
“Uco.”
Oh. Lihat wajah Yuda. Yudanya itu—ya, Yudanya—memasang salah satu ekspresi yang sangat jarang ia
keluarkan. Uco pernah melihat ekspresi itu sekali. Waktu ia bertanya jika Yuda
punya keluarga atau tidak. Yuda terdiam sesaat sambil memasang wajah itu.
“Mereka udah ngga
ada.”
Waktu itu Uco cuma menaikkan sebelah alis sambil bilang, “Oh, gitu.” Dia tidak tahu bahwa Yuda
berbohong untuk menutupi identitas keluarganya. Jika Uco cukup percaya
dengannya, maka Uco tidak akan menelusuri lebih jauh latar belakang Yuda.
Dan Uco percaya.
Andaikan ia tahu siapa Yuda yang sebenarnya...
Andaikan ia tahu, apa yang akan dilakukan Uco?
Yuda membangkitkan sesuatu dalam diri Uco. Bahkan Eka pun
bisa melihatnya. Jiwa Uco yang masih terkekang oleh ayahnya sedikit demi
sedikit berjalan maju. Jiwa Uco yang tertekan karena ayahnya, mendapat
perhatian dari Yuda, lelaki yang baru ia kenal dua tahun silam.
Mendadak ia ingat kenapa mereka berada di situasi seperti
ini.
Ayahnya, bajingan sialan itu, beraninya ia, beraninya ia
memandang rendah ia, anaknya sendiri, kekuasaannya, kapan ia mendapatkan
kekuasaannya, beraninya ia—
Setan-setan itu membisikinya lagi.
Bahkan segala yang Yuda ucapkan kepadanya tidak ia dengar.
Setan-setan itu membisikinya, menutup telinganya, menutup
pandangannya, menutup penciumannya, menutup jiwanya, menutup hatinya—
Menutup segala hal dari sekelilingnya, termasuk Yudanya.
Yudanya.
Miliknya. Hanya satu-satunya. Rasa egoisme telah menempel
keras di hati dan otaknya, tidak akan ia biarkan Yudanya diambil, tidak akan ia
biarkan Yudanya pergi. Tidak akan pernah.
Ia yang sudah menyelamatkan Yuda. Dan meski enggan
mengakuinya, Yuda juga menyelamatkannya. Yuda yang selalu berada di sisinya,
mendengarkan ocehannya, terbiasa akan kehadirannya. Yuda pun begitu. Tanpa Yuda,
ia bukan Uco yang mulai tumbuh. Tanpa Yuda, ia sudah mati atau lumpuh. Tanpa
Yuda, Uco merasa kosong.
Uco sudah menempatkan Yuda dalam daftar barang yang menjadi miliknya. Selama itu, tidak akan ada yang boleh
menyentuhnya. Uco akan menghabisi siapapun yang akan mengambil Yuda dari
sisinya, biarpun itu Tuhan. Uco akan menantang Tuhan jika hal itu sampai
terjadi.
Ia tidak akan membiarkan Yuda pergi. Walau harus pergi—meskipun itu terpaksa—Uco akan mengambil
nyawa dan hati Yuda, supaya ia tetap menjadi satu-satunya orang yang bisa
memiliki Yuda.
Selama itu, biarkan Yuda tetap berada di sampingnya.
“Uco.” bisik Yuda lagi.
Uco menggeretakkan giginya. Ia mencengkram erat tangan Yuda,
membuat Yuda meringis. Bilur ungu mulai nampak di pergelangan tangannya.
“DIAM!” teriaknya. Diam, diam, diam! Kenapa semua orang
selalu menghalangi jalannya, kenapa semua orang selalu menghalangi apa yang ia
lakukan, kenapa bahkan Yuda menentangnya? Kenapa?
Ia hanya ingin kebebasannya sendiri!
“Uco, tolong, gue—“
“GUE BILANG DIAM! LO TULI HAH!” Ia kembali meraup bibir
bengkak itu.
Perlahan, dengan penuh keraguan, Yuda membuka mulutnya.
Membiarkan lidah Uco menerobos masuk. Mengeksplor dinding-dinding mulutnya,
mengabsen gigi-giginya, mengajak lidah Yuda bergulat, menghisap salivanya
kuat-kuat—
Yuda menerima Uco. Sayangnya lelaki itu terlalu buta dengan
ambisinya sehingga tidak menyadari hal tersebut.
Yuda memejamkan matanya rapat. Ia berdoa dalam hati, Ya Tuhan, maafkanlah dosaku malam ini.
Maafkan dosa Uco yang sekarang dan yang dulu, maafkan kami atas perbuatan keji
ini. Jagalah istri, anak, dan bapakku di rumah. Maafkan—
Di setiap Uco menjamah tubuhnya ia berdoa, di saat Uco
mengulum daun telinganya, di saat Uco menjilat, mengecup, dan menghisap lehernya
sehingga meninggalkan bekas ungu di sana, di saat satu-persatu pakaiannya dengan
paksa telah lepas dari tubuhnya—Yuda tidak henti-hentinya memohon ampun atas
dosanya dan Uco yang sedang mereka lakukan.
Yuda menggigit bibirnya sampai luka baru membuka saat Uco
dengan beringas menjilat dan mengulum putingnya. Ia melakukan hal yang sama
pada puting yang lain, tanpa melepas cengkramannya pada kedua tangan Yuda. Uco
menggigit putingnya sampai Yuda rasa putingnya akan lepas.
“Mana suara lo, Yud? Udaah, keluarin aja, gue suka suara lo
kok.” Uco benar-benar mabuk sekarang. Entah karena pengaruh alkohol atau karena
ambisinya sendiri.
“Tanda ini—“ Uco berbisik di telinga Yuda, tangannya
menelusuri bekas ungu yang tersebar di seluruh bagian tubuh Yuda, sampai ke
pinggulnya, “—tanda yang nunjukkin kalo lo itu punya gue,”
Uco menggigit daun telinga Yuda. “Lo milik gue.”
“Karena lo itu milik gue, lo ngga berhak ngelawan perintah
gue! Ngerti lo?!”
Yuda hanya memalingkan wajahnya, merasa terhina dengan
keadaannya sekarang. Uconya sudah kehilangan kendali—Uconya.
Uconya hanya menganggap ia sebagai barang. Ia ingin merebut
Yuda dari dirinya sendiri sama seperti ia ingin merebut kekuasaan ayahnya. Uconya
menganggap ia memegang penuh atas kuasa Yuda. Padahal Yuda bukan barang. Ia
orang yang dekat dengan Uco. Orang yang selalu di sisi Uco. Orang yang dengan
sabar bertahan dengan segala ambisi dan emosi gila Uco. Orang yang tanpa Uco
sadari, mengkhianatinya dengan dekat dengannya.
Tapi Yuda masih menganggap Uco adalah Uconya.
Sampai kapan pun, dia tetap Uconya.
Yuda tersentak saat merasakan kedua kakinya dibuka lebar.
Mempertontonkan kemaluannya dan lubang anusnya.
Yuda berusaha menutupinya, “Co—“
Uco menepis tangannya kasar. “GUE BILANG DIAM!” Ia membuka
celana kain hitamnya sendiri dengan terburu-buru.
“Co, please—“
“DIAM LU!”
Yuda berteriak sekuat tenaga saat kejantanan Uco memasuki
anusnya. Teriakan paling memilukan yang pernah ia buat. Bahkan saat ia
tertembak atau tertusuk, Yuda tidak pernah merasakan sakit yang luar biasa ini.
Rasanya seperti tubuhnya tertusuk parang, tapi lebih parah. Bagaikan anusnya
dibelah secara perlahan.
Kedua tangannya tekulai lemas di samping tubuhnya. Setitik
air mata mengalir dari wajahnya. Percuma
ngelawan sekarang, pikirnya. Semuanya
udah terjadi. Ngga ada yang bisa mutar-balikkan waktu.
Saat Uco mencoba mendorong masuk penisnya lebih dalam lagi,
Yuda hanya bisa merintih kecil. Ia sudah pasrah. Bagaikan nyawanya berada di
tangan Uco di setiap tusukan Uco ke dalam anusnya.
Yuda bukan orang yang mudah menyerah. Berbagai kejadian
telah membuka matanya. Karena keluarganya ia bisa berdiri sampai sekarang. Dan
Yuda akan pulang. Pulang ke pelukan istrinya, memeluk anak tercintanya,
menghibur bapaknya atas kematian abangnya. Bukan sekarang waktunya ia akan
menyerah. Bukan sekarang ia akan jatuh dan terkubur. Bukan sekarang.
Namun apa yang bisa ia lakukan saat dihadapi oleh orang
seambisius Uco?
Ia hanya bisa terbaring lemah. Tergolek tak berdaya. Ha,
bahkan melawan pun tidak bisa. Semua ilmu pencak silatnya tidak ada gunanya
sekarang. Ini lebih sakit daripada kulitmu dikuliti satu-persatu. Lebih sakit
daripada tubuhmu ditikam dari belakang. Ini lebih sakit karena harga dirimu
dikoyak oleh orang yang dekat
denganmu.
Jadi, apa yang bisa ia lakukan sekarang?
Uco menggeretakkan giginya saat mendorong penisnya. Setiap
ia bergerak maju, dinding anus Yuda akan semakin menyempit, seolah tidak
membiarkannya masuk. Persetan,
pikirnya. Ia mendorong penisnya sekuat tenaga dengan sekali sentakan,
membuatnya sepenuhnya berada di dalam tubuh Yuda. Darah menetes dari
selangkangan Yuda. Setitik air mata kembali mengalir dari wajah sayunya.
Membunuhnya perlahan-lahan. Itu yang sedang dilakukan Uco
sekarang.
Yuda pelan-pelan berpaling, mencoba melihat wajah Uco.
Pandangannya sudah terasa kabur, bekas air mata dan rasa sakit dari anusnya
menyakiti kepalanya. Membuat pikirannya terganggu.
“U-co...”
Uco tersentak, mengalihkan pandangannya ke wajah Yuda.
Dalam dua detik, Yuda bisa melihat sosok Uco yang
sebenarnya. Wajahnya penuh sesal dan sedih. Dalam dua detik, mereka
berpandangan.
Sampai Uco memutuskan kontak mata mereka, mencengkram lagi
kedua tangan Yuda dengan tangan kirinya. Tangan kanannya mengangkat setinggi
mungkin kaki kiri Yuda.
Ia menyentak penisnya maju mundur. Di setiap sentakannya
mengupas dinding anus Yuda, membuka lebar lukanya. Darah semakin menetes deras
dari selangkangan Yuda. Darah itu mengotori sofa yang mereka tempati. Tidak
peduli apa kata pemilik tempat karaoke itu.
“Haaa—“ Yuda membuka mulutnya lebar-lebar saat Uco meraih
penisnya yang tidak menunjukkan reaksi sama sekali—tentu saja, mana sempat ia
berpikir bahwa kegiatan yang mereka lakukan ini menyenangkan. Dari tadi yang ia
rasakan dalam hatinya hanyalah pengkhianatan dan kesedihan.
Ini karma untuknya. Karma dari Tuhan atas apa yang ia
perbuat selama ini. Ia pikir dirinya pantas mendapatkan ini.
Maka ia berpikir, ngga
papa.
Uco mengocok penisnya seirama dengan sentakan penis Uco. Tangan
Yuda berusaha menghalau tangan Uco.
“Ja-ngan, Co, jangan—“
Uco tidak menghiraukan Yuda. Ia malah mempercepat gerakan
pinggul dan tangannya.
Bibirnya meraup bibir Yuda saat ia mencapai klimaksnya.
Mendorong penisnya dalam-dalam ke dalam anus Yuda, membuat Yuda merasakan
sperma Uco yang tumpah di dalam tubuhnya. Uco bermain kasar dengan mulutnya,
tangannya mempercepat kocokan penis Yuda.
Lenguhan Yuda teredam dalam ciuman mereka. Spermanya tumpah
di tangan Uco. Yuda memejamkan matanya rapat-rapat.
Hilang sudah harga dirinya. Dihancurkan Uco. Lelaki itu
dengan seenaknya mempermainkannya, perasaannya—tanpa tahu ia sebenarnya siapa.
Apa saja yang sudah ia miliki sekarang dan apa saja hal yang telah terenggut
darinya. Sekarang bertambah hal penting yang hilang darinya.
Harga dirinya.
Hatinya. Hati untuk Uconya.
Uco menarik dirinya keluar dari Yuda. “Liat gue, Yud.”
Yuda memandangnya. Tatapan itu tidak berubah, masih sayu dan
menyedihkan. Jejak-jejak air mata menempel di pipinya. Uco masih menatapnya
dengan bara api di dalam matanya. Membakar jiwanya, menghancurkan hatinya.
“Lo milik gue.”
Setitik air mata kembali mengalir di wajah Yuda.
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar